Jumat, 05 Oktober 2018

Cerpen Sedih

Siang ini begitu panas. Sinar matahari seakan membakar kulitku. Tapi aku harus bisa bertahan dan dapat melawannya. Karena aku harus tetap pada tugasku yaitu menjadi vokalis band.
Namaku Stella, aku tinggal bersama kakakku. Namanya Yuan, aku harus bekerja untuk mencari biaya pengobatan kakak yang sedang sakit.

Sedikit kesal juga sih, aku sama kakak. Dia itu suka menyuruh aku buat nyanyi. Tapi aku nggak mau nyanyi depan kakak karena kemampuan bernyanyi kakak pastinya lebih baik dariku. Tapi kenapa aku yang harus bekerja mencari biaya pengobatan kakak? Karena aku udah nggak punya siapa siapa lagi selain kak Yuan. Orangtuaku kecelakaan sewaktu ingin mengantar kakak berobat. Dan itu juga menambah kebencianku pada kakak.

Hari ini aku konser sama grup bandku yang bernama STAR (Stela, Tirta, Alga dan Rano). Walaupun cuaca terik, kami tetap semangat bekerja.
“Huh, capek nih… abis konser!” Ujarku.
Kakak datang memasuki kamarku.
“Capek ya dek? Mau minum apa La?” Tanya kakak.
“Sirup juga gak apa apa deh..” jawabku.
Selang beberapa menit, kakak datang dengan segelas sirup oranye segar. Ia berkata, “Silahkan diminum dek! Kalau udah nanti kamu nyanyi buat kakak ya?”
Aku membating gelas sirup.
“Jangan mentang mentang suara lo bagus ya? Lo jadi seenaknya sama gue. Gue ini kerja buat lo supaya lo sembuh. Ngerti?” tukasku kesal.
Kakak cuma diam, sedikit menitihkan air mata. Kakak mengumpulkan serpihan kaca gelas dan pergi meninggalkan kamarku.
Esok harinyaa…
Aku dan grup bandku berlatih di kamarku. Kami hanya menghafal lagu. Tirta memulai dulu, aku, Rano dan Alga. Lagu yang kami hafal adalah One And Only yang dibawakan oleh Adelle.
Kakak masuk ke kamar dan bertepuk tangan. Kami berempat terdiam.
“Sebentar ya” kataku kepada teman teman.
Aku menyeret kakak ke luar kamar.
“Bisa nggak sih, kakak nggak usah buat malu aku sama temenku? Nih obat kakak!” Aku melempar bungkusan obat kakak.
“Makasih obatnya ya. Maaf kalau kakak udah bikin kamu malu.”
Kakak pergi ke kamarnya. Aku melanjutkan latihan tadi.
Sudah 2 jam, aku dan temanku merasa haus. Aku berencana memanggil kakak untuk mengantar sirup.
“Kaaak!!!” Teriakku. Kak Yuan mana sih? Masa nggak denger. Aku pergi ke kamar kakak, di sana kakak udah tergeletak di lantai. Ada apa dengan kakak? Kurasa penyakitnya kambuh lagi.
Aku membawa kakak ke rumah sakit dengan mobil Alga. Kakak di UGD untuk sementara.
Sudah 3 jam kakak baru membuka matanya.
“Stellaaa… nya.. nyanyi buat kakaaak!!!” Ucapnya terbata bata.
“Kak Yuan udah sadar? Bentar ya kak, aku ambil gitar dulu!”
“Aku menyayangimu wahai kakak…
Aku merindukanmu kak…
Kau slalu dalam ingatanku…
Love you to kaak…”
Aku membawakan lagu ciptaanku sendiri untuk kakak. Terlihat kakak tersenyum bahagia padaku.
“Makasiiihh… Stelll.. merdu sekalii… kakak merasa bahagia tanpa rasa sakit.. love youu…”
Kakak menutup matanya. Aku merasakan hembusan nafas terakhirnya.
“Kaaak… maafin Stella kakk… bangun dong kaak.. sembuh dong… biar kita bisa nyanyi bareng..”
Aku meratapi kepergian kakak. Sekarang, aku sendirian.. Tiga orang yang menyayangiku pergi buat selamanyaa.. semoga kalian tnang tanpa kehadiranku… makasih buat waktunya demi mengurus diriku yang tak pernah buat kalian bahagia.. nyanyian lagu buat kak Yuan biarkan menjadi penenang arwah kakak di atas sana…

Senin, 01 Oktober 2018

Cerpen Gokil 'Maaf"

     Sudah 1 tahun lebih gue pacaran sama bella. Dan sifat aslinya mulai Nampak seiring berjalannya waktu. Gue udah gak tau harus bagaimana lagi untuk menyikapinya. Seolah-olah dia itu adalah gabungan dari semua gebetan yang gue benci. “Angga, kamu mau gak anterin aku ke mall beli baju?” katanya berbicara di telfon.
“tapi kan baju kamu udah banyak” jawab gue ngeluh.
“baju aku itu sedikit, kamu emang gak ngeliat di rumah aku, Cuma 1 lemari ga, 1 lemari. Terus…”
Tut tut tut.
     Gue langsung mematikan handphone. Kalau dia berbicara entah menghabiskan waktu berapa lama untuk mendengar ocehannya itu. Sifatnya yang boros itu perlahan-lahan muncul. Padahal saat kami berpacaran dulu, dia tidak seboros ini.
“bel, kamu mau aku beliin apa? boneka? cincin? atau apa terserah kamu” tanyaku yang berjalan di sampingnya itu.
“nggak usah ga, aku gak mau ngerepotin kamu, mending uang kamu disimpan aja buat tabungan untuk masa depan kita nanti” jawabnya sambil tersenyum kecil.
Seketika wajah gue saat itu memerah seperti kulit hellboy.
Tetapi nyatanya dia tidak seperti yang gue harapkan.
“kok kamu mutusin teleponnya sih!” ucapnya saat gue baru membalas teleponnya.
“tadi tiba-tiba tower sinyal di dekat rumah aku rubuh, jadi mati deh.” Jawab gue mencari alasan.
“kamu nih ya kalau ngomong sama aku selalu begitu, kamu emang gak tau saat kita dulu…”
Tut tut tut.Ternyata tower sinyal di dekat rumah gue benar-benar rubuh.
     Tidak hanya boros, bella orang yang sangat cerewet. Beda ketika kita pdkt dulu. Dia sangat pendiam dan pemalu, seperti gadis desa. Tetapi nyatanya sekarang dia lebih mirip dengan raja terakhir di resident evil. Cerewet dan kejam. Kami menjalani hubungan ini sudah tidak seperti dulu lagi. Diawal pacaran kami sangat bahagia sekali, seperti anak kecil yang mendapat uang dari sisa belanja ibunya. Kami berdua sering nonton bareng, jalan bareng, bahkan tidur bareng. Tetapi beda rumah loh.
     Perlahan-lahan gue mulai berpikir bahwa gue ingin putus dari bella. Tapi gue mengambil jalan yang salah. Gue tidak putus dengan dia. Tetapi gue mencoba untuk selingkuh. Gue tau kalau itu salah. Tetapi entah kenapa hati gue berkata lain. Gue berpikir selama bella gak tau gue selingkuh, kayaknya gak apa-apa gue melakukan itu. Dan ternyata gue salah besar. Bella mulai merasa aneh dengan tingkah laku gue belakangan ini. Seolah-olah dia tau kalau gue selingkuh dari dia. Memang pada saat itu gue sedang dekat dengan teman sekelas gue di kampus. Dia mirip sekali seperti bella saat gue pdkt dengannya dulu.
“aku pinjam handphone kamu dong” ucap bella yang tiba-tiba memecah keheningan.
“Kamu kan ada handphone, ngapain pinjam handphone aku segala” jawab gue cuek sambil terus menyetir.
“kan aku mau liat doang, kamu selingkuh ya?”
Gue langsung kaget. “kok kamu bilang gitu sih, kamu gak percaya sama aku”.
“Aku baca di majalah wanita kalau ciri-ciri orang selingkuh itu nggak mau minjemin handphone ke pacarnya, kayak kamu nih”
“Masa kamu percaya sih sama majalah begituan” jawab gue agak panik. Kalau dia tau gue selingkuh bisa gawat. Gue mulai melihat di sekeliling. Berharap tidak ada benda yang tajam, jadi kalau dia marah dia tidak menusuk-nusuk mata gue.
“sini handphone kamu”, dia mengambil handphone gue dengan paksa, yang pada saat itu gue taruh di kantong celana gue.
“kamu ngapain sih? ini aku lagi nyetir tau, nanti bisa celaka” ucap gue sambil mulai melakukan gerakan-gerakan agar dia tidak bisa mengambil handphone gue.
“aaahhhh…, hati-hati kamu salah megang nanti” teriak gue dengan pasrah. Jika gue melakukan gerakan-gerakan yang tidak perlu lagi, gue takut nanti berakhir dengan tragis. Akhirnya gue pasrah dia mengambil handphone gue.
“nahh dapet, aku mau liat apa yang kamu sembunyiin dari aku” jawab dia dengan semangat.
“gak ada kok sayang, beneran deh, percaya aja sama aku” jawab gue yang mencoba agar dia tidak melihat chatting gue sama anggun.
Gue mulai panik. Kali ini gue terus berpikir alasan apa yang akan gue bilang ke dia. Pikiran gue saat itu campur aduk.
Kami berdua terdiam. Gue mencuri-curi pandang ke bella dan melihat kalau dia tidak menemukan chattingan gue sama anggun. Tiba-tiba saja air mata bella mengalir.
“kok kamu tega sih sama aku” ucapnya dengan tersedu-sedu, air matanya perlahan-lahan keluar.
“tega gimana sih maksud kamu? aku gak ngerti deh”. Jawab gue dengan wajah yang bego, seakan-akan gue gak tau apa yang terjadi.
“Ini siapa..? kok kamu chattingannya mesra gini, kamu kok berani sih selingkuhin aku!!” teriak dia sambil menangis.
Pikiran gue saat itu sangat kacau, gue udah gak tau harus ngomong apa lagi. “itu nenek aku bella..” jawab gue panik.
“masa kamu chattingan sama nenek kamu mesra gini, lagian nenek kamu kan udah meninggal.”
“dia bangkit lagi”.
Kami bertengkar sangat lama pada saat itu. Bahkan gue lupa ke mana tujuan gue dengan bella saat itu. Gue hanya mengendarai mobil tanpa arah tujuan. Gue mulai menjelaskan ke dia, kenapa gue selingkuh.
“Kenapa kamu gak bilang ke aku aja sih, kenapa harus dengan cara selingkuh” jawab dia dengan pelan. Air matanya perlahan mulai berhenti.
“iya maaf. Aku salah, gak seharusnya aku selingkuhin kamu” ucap gue dengan rasa yang sangat bersalah.
Kami terdiam sejenak.
     Dan bella pun membuka suaranya. “kayaknya kita putus aja deh, kita udah gak bisa lanjut”.
Gue terdiam. Saat itu gue tidak berbicara apa-apa. Dan bahkan gue tidak membela diri ataupun menjawab keputusan bella itu. Suasana sangat hening dan hanya terdengar rintik hujan. Gue langsung mengantarnya ke rumah. Bahkan kami sudah lupa ke mana tujuan kami sebenarnya. Bella masuk ke rumah tanpa berkata satu kata pun. Dan gue mengendarai mobil gue lagi untuk pulang ke rumah. Selama perjalanan gue mulai berpikir, betapa kejamnya gue. Bahkan gue merasa bahwa gue yang sangat kejam terhadapnya. Dan gue terus menyesali perbuatan gue ini.

Sampai di rumah. gue mulai membuka handphone gue. Melihat chattingan gue dengan anggun. Terlintas di pikiran gue, dalam hati gue terus berkata kenapa gue tega melakukan ini.
Gue mencari-cari kontak bella dan mencoba untuk meneleponnya, dan dia tidak menjawab. Gue mencoba untuk mengirimnya pesan. Dan Meminta maaf kepadanya. Gue menghadap ke langit-langit kamar, sambil menunggu balasan dari bella. Berharap dia bisa memaafkan gue. Dan mengulang kembali hubungan ini.

Cerpen Cinta

    Ini kisah cinta milik gadis belia yang baru menginjak umur 17 tahun. Pemilik akun facebook Larasati Adea ini kini tengah menjalin hubungan asmara dengan pria kenalannya di sosmed, pria itu bernama Adrian Musei ia seorang pelaut yang kini sedang bertugas di mauritius africa. Mereka semakin dekat karena ternyata mereka satu kampung dan kini sama-sama menjadi anak rantau, Entahlah… aku sendiri tidak yakin bagaimana bisa orang benar-benar percaya kalau mereka akan menemukan jodoh mereka di dunia maya.
     Hp nya berdering pertanda ada pesan masuk, Larasati yang tengah sibuk menyusun buku bawaannya ke sekolah pun bergegas meninggalkan pekerjaannya. Ya… wajar saja hal itu terjadi karena setiap hari Larasati selalu menunggu-nunggu kabar dari pria berkepala botak dan berkulit sawo matang itu datang, senyumnya mengembang jemari lentiknya tak henti-henti mengetik pesan demi pesan cinta untuk sang kekasih nan jauh, sejak Adrian pindah kerja ke Korea ia tak serajin dulu memberi kabar pada Larasati, mungkin karena ia benar-benar sibuk.
      Kesabaran Larasati kini mulai diuji, Adrian tak pernah lagi mengirim pesan sejak chat terakhir mereka 4 bulan lalu. Bertubi-tubi Larasati mengirim pesan yang menghunjamkan pertanyaan tentang kabar Adrian namun tak satupun mendapatkan balasan. Mengapa? aku melihatnya aktif di facebook tapi, mengapa pesan yang kukirim dibiarkannya menjadi tumpukan sampah? Oh tuhan… aku selalu merindukannya dalam setiap do’a ku. Entah mengapa hatinya terasa begitu pilu, padahal ia sendiri belum pernah sekalipun bertemu langsung dengan pria itu.
      Selepas lulus dari SMA Larasati berkuliah di STIKES PADANG dan hari-harinya selalu di isi bukan oleh kegiatan dan tugas kuliah seolah ia sudah melupakan masalahnya dengan Adrian. 4 tahun telah berlalu, Larasati pun telah menyelesaikan pendidikannya di bangku kuliah, kini gadis minang itu pun siap menyandang gelar dokter, cita-citanya pun kini sudah menjadi kenyataan dan itu merupakan hal yang membanggakan bagi kedua orangtua Larasati melihat anak semata wayangnya sukses, seperti orangtua pada umumnya kedua orangtua Larasati selalu menanyakan kapan putrinya akan menikah. Bagi larasati bukanlah hal yang mudah untuk melupakan Adrian, bagaimana tidak? Adrian adalah cinta pertamanya dan sejak Adrian hilang tanpa kabar Larasati tak pernah jatuh cinta lagi, baginya adrian akan tetap abadi.
     Larasati kini telah bekerja di salah satu rumah sakit umum, tidak begitu jauh dari rumahnya sebagai dokter spesialis bedah sejak sebulan yang lalu. Seperti hari-hari biasanya, pagi ini Larasati sudah siap pergi untuk bekerja setelah berpamitan pada ibu dan ayahnya namun, sesampainya Larasati di depan pagar rumahnya Larasati terhenti, ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bagaimana mungkin? pemuda itu.. Adrian, benarkah itu dia?
     Adrian bercerita panjang lebar kepada Larasati tentang alasannya selama ini tanpa kabar, sepanjang Adrian bercerita air mata Larasati tak hentinya mengalir, jemarinya mencengkram erat tangan Adrian seolah tak ingin lagi Adrian pergi jauh darinya.
     Kini Adrian datang untuk menikahi Larasati, segala kesetiaan, pengorbanan dan kesabaran Larasati terbayar sudah dengan kebahagiaan.