Siang ini begitu panas. Sinar matahari seakan membakar kulitku. Tapi aku harus bisa bertahan dan dapat melawannya. Karena aku harus tetap pada tugasku yaitu menjadi vokalis band.
Namaku Stella, aku tinggal bersama kakakku. Namanya Yuan, aku harus bekerja untuk mencari biaya pengobatan kakak yang sedang sakit.
Sedikit kesal juga sih, aku sama kakak. Dia itu suka menyuruh aku buat nyanyi. Tapi aku nggak mau nyanyi depan kakak karena kemampuan bernyanyi kakak pastinya lebih baik dariku. Tapi kenapa aku yang harus bekerja mencari biaya pengobatan kakak? Karena aku udah nggak punya siapa siapa lagi selain kak Yuan. Orangtuaku kecelakaan sewaktu ingin mengantar kakak berobat. Dan itu juga menambah kebencianku pada kakak.
Hari ini aku konser sama grup bandku yang bernama STAR (Stela, Tirta, Alga dan Rano). Walaupun cuaca terik, kami tetap semangat bekerja.
“Huh, capek nih… abis konser!” Ujarku.
Kakak datang memasuki kamarku.
“Capek ya dek? Mau minum apa La?” Tanya kakak.
“Sirup juga gak apa apa deh..” jawabku.
“Huh, capek nih… abis konser!” Ujarku.
Kakak datang memasuki kamarku.
“Capek ya dek? Mau minum apa La?” Tanya kakak.
“Sirup juga gak apa apa deh..” jawabku.
Selang beberapa menit, kakak datang dengan segelas sirup oranye segar. Ia berkata, “Silahkan diminum dek! Kalau udah nanti kamu nyanyi buat kakak ya?”
Aku membating gelas sirup.
“Jangan mentang mentang suara lo bagus ya? Lo jadi seenaknya sama gue. Gue ini kerja buat lo supaya lo sembuh. Ngerti?” tukasku kesal.
Kakak cuma diam, sedikit menitihkan air mata. Kakak mengumpulkan serpihan kaca gelas dan pergi meninggalkan kamarku.
Aku membating gelas sirup.
“Jangan mentang mentang suara lo bagus ya? Lo jadi seenaknya sama gue. Gue ini kerja buat lo supaya lo sembuh. Ngerti?” tukasku kesal.
Kakak cuma diam, sedikit menitihkan air mata. Kakak mengumpulkan serpihan kaca gelas dan pergi meninggalkan kamarku.
Esok harinyaa…
Aku dan grup bandku berlatih di kamarku. Kami hanya menghafal lagu. Tirta memulai dulu, aku, Rano dan Alga. Lagu yang kami hafal adalah One And Only yang dibawakan oleh Adelle.
Aku dan grup bandku berlatih di kamarku. Kami hanya menghafal lagu. Tirta memulai dulu, aku, Rano dan Alga. Lagu yang kami hafal adalah One And Only yang dibawakan oleh Adelle.
Kakak masuk ke kamar dan bertepuk tangan. Kami berempat terdiam.
“Sebentar ya” kataku kepada teman teman.
Aku menyeret kakak ke luar kamar.
“Bisa nggak sih, kakak nggak usah buat malu aku sama temenku? Nih obat kakak!” Aku melempar bungkusan obat kakak.
“Makasih obatnya ya. Maaf kalau kakak udah bikin kamu malu.”
Kakak pergi ke kamarnya. Aku melanjutkan latihan tadi.
“Sebentar ya” kataku kepada teman teman.
Aku menyeret kakak ke luar kamar.
“Bisa nggak sih, kakak nggak usah buat malu aku sama temenku? Nih obat kakak!” Aku melempar bungkusan obat kakak.
“Makasih obatnya ya. Maaf kalau kakak udah bikin kamu malu.”
Kakak pergi ke kamarnya. Aku melanjutkan latihan tadi.
Sudah 2 jam, aku dan temanku merasa haus. Aku berencana memanggil kakak untuk mengantar sirup.
“Kaaak!!!” Teriakku. Kak Yuan mana sih? Masa nggak denger. Aku pergi ke kamar kakak, di sana kakak udah tergeletak di lantai. Ada apa dengan kakak? Kurasa penyakitnya kambuh lagi.
Aku membawa kakak ke rumah sakit dengan mobil Alga. Kakak di UGD untuk sementara.
“Kaaak!!!” Teriakku. Kak Yuan mana sih? Masa nggak denger. Aku pergi ke kamar kakak, di sana kakak udah tergeletak di lantai. Ada apa dengan kakak? Kurasa penyakitnya kambuh lagi.
Aku membawa kakak ke rumah sakit dengan mobil Alga. Kakak di UGD untuk sementara.
Sudah 3 jam kakak baru membuka matanya.
“Stellaaa… nya.. nyanyi buat kakaaak!!!” Ucapnya terbata bata.
“Kak Yuan udah sadar? Bentar ya kak, aku ambil gitar dulu!”
“Aku menyayangimu wahai kakak…
Aku merindukanmu kak…
Kau slalu dalam ingatanku…
Love you to kaak…”
Aku membawakan lagu ciptaanku sendiri untuk kakak. Terlihat kakak tersenyum bahagia padaku.
“Makasiiihh… Stelll.. merdu sekalii… kakak merasa bahagia tanpa rasa sakit.. love youu…”
Kakak menutup matanya. Aku merasakan hembusan nafas terakhirnya.
“Kaaak… maafin Stella kakk… bangun dong kaak.. sembuh dong… biar kita bisa nyanyi bareng..”
“Stellaaa… nya.. nyanyi buat kakaaak!!!” Ucapnya terbata bata.
“Kak Yuan udah sadar? Bentar ya kak, aku ambil gitar dulu!”
“Aku menyayangimu wahai kakak…
Aku merindukanmu kak…
Kau slalu dalam ingatanku…
Love you to kaak…”
Aku membawakan lagu ciptaanku sendiri untuk kakak. Terlihat kakak tersenyum bahagia padaku.
“Makasiiihh… Stelll.. merdu sekalii… kakak merasa bahagia tanpa rasa sakit.. love youu…”
Kakak menutup matanya. Aku merasakan hembusan nafas terakhirnya.
“Kaaak… maafin Stella kakk… bangun dong kaak.. sembuh dong… biar kita bisa nyanyi bareng..”
Aku meratapi kepergian kakak. Sekarang, aku sendirian.. Tiga orang yang menyayangiku pergi buat selamanyaa.. semoga kalian tnang tanpa kehadiranku… makasih buat waktunya demi mengurus diriku yang tak pernah buat kalian bahagia.. nyanyian lagu buat kak Yuan biarkan menjadi penenang arwah kakak di atas sana…